Minggu, 08 November 2009

Lukas 2:41-52











Saudara-saudari, keluarga Kristiani yang dikasihi Tuhan,

Ayat-ayat yang barusan kita dengar ini semestinya selalu sangat menarik untuk seorang pembaca Alkitab / Kitab Suci. Pada umumnya, kebanyakan pembaca lebih suka mencari tahu fakta-fakta tentang Tuhan kita Yesus Kristus selama tiga puluh tahun pertama kehidupan-Nya di bumi, yakni setelah kelahiran-Nya. Banyak hal yang ingin diketahui tentang peristiwa awal selama tiga puluh tahun itu, khususnya kisah harian di rumah Yesus di Nazaret! Apalagi, bagi keluarga Kristen yang baru saja merayakan Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus.

Marilah kita pertama-tama menarik dari bacaan tersebut pelajaran bagi semua orang yang sudah menikah. Kisah Yusuf dan Maria memiliki kekayaan pelajaran tersebut. Dikatakan bahwa "mereka pergi ke Yerusalem setiap tahun, pada hari raya Paskah." Mereka secara teratur menghormati tata cara yang ditunjuk Allah dan mereka menghormati tata cara tersebut bersama-sama. Jarak dari Nazaret ke Yerusalem luar biasa jauhnya. Perjalanan, bagi orang miskin yang tidak memiliki sarana angkutan, pasti merupakan sesuatu yang tidak nyaman dan melelahkan. Untuk meninggalkan rumah dan segala kesibukannya selama beberapa minggu menelan biaya yang tidak sedikit. Tetapi Allah telah memberikan kepada Israel suatu perintah, dan Yusuf dan Maria benar-benar mematuhi itu. Allah telah menetapkan beberapa hal untuk kebaikan rohani mereka, dan mereka secara teratur melaksanakannya. Dan semua yang mereka lakukan mengenai hari raya Paskah Yahudi, mereka lakukan bersama-sama.

Jadi, seharusnya hal itu terjadi dengan semua suami dan istri Kristiani. Mereka harus saling membantu dalam hal-hal rohani, dan mendorong satu sama lain dalam melayani Tuhan. Perkawinan bukan sekadar merupakan sakramen yang sia-sia, atau sakramen yang tidak memiliki makna. Tapi pernikahan adalah suatu keadaan hidup yang memiliki pengaruh terbesar pada jiwa orang-orang yang masuk ke dalamnya. Pernikahan membantu mereka untuk menentukan sikap, sikap mendekati surga atau menjauh dari surga. Atau dengan kata lain, pernikahan membuat mereka lebih dekat ke surga atau lebih dekat ke neraka. Kita semua sangat tergantung pada pasangan tetap kita. Karakter kita dibentuk oleh orang-orang yang bersama kita dalam melewati waktu-waktu dalam hidup kita. Suami dan istri sekarang ditantang untuk terus-menerus berbuat baik atau membahayakan jiwa satu sama lain.

Biarkan semua orang yang menikah, atau yang sedang memikirkan pernikahan, merenungkan hal-hal ini dengan baik. Biarkan mereka mengambil contoh dari perilaku Yusuf dan Maria, dan memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Biarkan mereka berdoa bersama, dan membaca Alkitab bersama-sama, dan pergi ke rumah Allah bersama-sama, dan berbicara satu sama lain mengenai hal-hal rohani. Di atas semuanya, biarkan mereka menjadi sarana rahmat bagi satu sama lain.

Kedua, marilah kita kembali menarik dari bacaan tersebut sebuah nilai bagi semua orang muda. Nilai tersebut berada dalam bagian kisah Yesus, ketika Ia tertinggal sendiri di Yerusalem sewaktu berusia dua belas tahun. Selama empat hari, Yesus tidak terlihat dari pandangan Maria dan Yusuf. Selama tiga hari mereka "mencari Dia," tidak tahu apa yang telah menimpa-Nya. Siapa yang dapat membayangkan kecemasan seperti rasa kehilangan seorang ibu pada anak seperti itu? Dan dimanakah mereka akhirnya menemukan-Nya? Yesus tidak membuang waktu sambil termangu-mangu di jalanan kota, atau terlibat dalam kenakalan apapun, seperti pada umumnya terjadi pada anak-anak seusia-Nya. "Mereka menemukannya di dalam bait Allah - duduk di tengah-tengah" alim ulama Yahudi, "sambil mendengar mereka dan mengajukan pertanyaan kepada mereka.”

Jadi, seharusnya hal itu juga terjadi pada anak muda Kristiani sekarang. Mereka harus stabil dan dapat dipercaya walaupun berada di luar pengawasan orang tua mereka. Anak muda Kristiani seharusnya mencari orang yang lebih bijaksana, dan menggunakan setiap kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan rohani, sebelum kehidupan mempengaruhi mereka, dan selagi ingatan mereka masih segar dan kuat. Biarkan anak laki-laki dan perempuan muda Kristiani merenungkan hal-hal ini dengan baik, dan mengambil contoh dari apa yang dilakukan Yesus pada usianya yang baru dua belas tahun. Biarkan mereka ingat, bahwa jika mereka cukup tua untuk berbuat salah, maka mereka juga sudah cukup dewasa untuk melakukan yang benar, dan bahwa kalau mereka mampu membaca buku cerita dan mendiskusikannya, mereka juga sesungguhnya sudah mampu membaca Alkitab dan berdoa. Biarkan mereka ingat, bahwa mereka bertanggung jawab kepada Allah, meskipun ketika mereka masih muda. Keselamatan benar-benar terdapat dalam keluarga-keluarga yang anak-anaknya "mencari Tuhan lebih awal dalam hidupnya," dan di sana, tidak ada lagi air mata orangtuanya, karena tidak ada lagi keresahan.

Marilah kita, pada tempat yang terakhir, menarik sebuah contoh untuk semua orang Kristen sejati dari bacaan yang kita dengar hari ini. Mari kita belajar dari kata-kata Tuhan kita yang ditujukan kepada Ibunya Maria, "Tidakkah kamu tahu," jawab-Nya, "bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?" Hal itu dimaksudkan untuk mengingatkan ibu-Nya bahwa Dia bukan orang biasa, yang telah datang ke dunia untuk melakukan karya manusiawi. Kalimat tersebut merupakan petunjuk bahwa Dia datang ke dunia ini dengan cara yang tidak biasa, dan ibu-Nya tidak bisa berharap pada-Nya untuk tinggal diam di Nazaret. Sebagai Allah, Dia memiliki Bapa di surga, dan karya Bapa di Surga-lah yang menuntut perhatian utama-Nya.

Pertanyaan untuk kita renungkan: "Apakah hidup kita sesuai dengan kehendak Bapa kita di surga? Apakah kita berjalan sesuai dengan langkah-langkah yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus? Apakah kehendak Allah menjadi perhatian utama kita dalam mengambil sebuah keputusan? Pertanyaan seperti itu sungguh berguna bagi jiwa kita. Sejarah telah membuktikan bahwa Gereja berada dalam kondisi yang sangat sehat ketika para anggotanya percaya dan berjuang dalam segala hal untuk menjadi seperti Kristus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar